Selasa, 28 Januari 2014

Marahan k-2

Hari ini sempat ada cekcok kecil sama Aogi sekitar 10 menit aja. Gara-garanya sepele sih, cuma karena Aogi gak mau telpon Mama, padahal Hp udah dipegang Mamah. Kesannya khan gak sopan, akhirnya marah lah aku. Sebenernya lebih ngerasa dia gak mau deket sama orang-tua aku, jadinya ngerasa gak adil aja. Aku selalu berusaha dekat dengan calon mertuaku, karena bagaimanapun mereka akan jadi orang tua ku nanatinya. Dibilang malu iya, dibilang canggung juga iya, tapi harus bisa masuk dalam kehidupan mereka itulah niatku. Bedanya sama Aogi, dia gak pernah telpon orang tuaku, atau apalah yang sekedar berusaha mendekatkan diri. Bukan ingin berlebay-lebay sih, cuma buat bikin kita lebih dekat aja. Orang tua manapun akan lebih suka dengan anak menantunya yang juga dekat dengan mereka. Makanya kesel banget liat laki-laki model beginian. Untung aja Babeh emang suka sama dia, kebayang kalo dia kayak cowok-cowok lainnya yang kudu ngambil hati Babeh dulu. Soalnya sekalipun suka, kalo Babeh bilang gak boleh jelaslah bakal selesai juga hubungan kita.

Mungkin memang enggak semua orang bisa mendekatkan diri, Aogi memang lebih natural dan seadanya. Dia lebih suka ketemu langsung dibandingkan dengan harus ngobrol telpon. Alasannya adalah karena dia takut salah ngomong, takut nantinya bikin ortuku ilfeel sama dia. Oke, bisa sedikit diterima walopun memang masih kesal. Aku ngomel terus ngungkapin kekeselan aku, tapi lama-lama gak tega juga sama dia yang gak banyak ngomong. Dia diam sambil bilang "Iya, maafin Aa yah." berkali-kali dia bilang begitu, rasanya pengen banget gak maafin dia. Tapi mungkin sekarang aku lebih rasional, hal yang sepele seperti ini gak seharusnya juga dibesar-besarkan, akan ada waktunya dia dekat dengan orang tuaku dan gak perlu aku yang meminta. Gak  perlu juga keegoisan dan amarahku jadi hal yang menghancurkan niat baik kita. Aku menghela nafas dan mencoba mencairkan suasana. Kalo aja dia di dekatku, ingin rasanya memeluk dia dan bilang "Aku gak bermaksud marah dan buat hubungan kita berantakan, aku cuma ingin bilang apa yang aku inginkan."

Dua kali mungkin aku udah marah sama Aogi, sebetulnya gak ingin marah. itu cuma cara aku menegur, aku bukan orang yang diam dan menahan unek-unek, makanya setiap ada hal yang gak sejalan denganku yah langsung aja aku bilang. Mungkin memang terkadang intonasinya gak bisa terkontrol, itu yang buat dia takut aku marah. Padahal dalam hati memang aku juga gak ingin marah dan semuanya jadi gak baik, marah yang terlalu sering bakal jadi hal yang biasa aja. Aku gak pengen mrahan itu jadi hal yang biasa dan wajar. Aku ingin memperbaiki semuanya di hubunganku kali ini. Ingin berubah dari kebiasaan lamaku, membuang keras kepalanya aku, membuang sifat tegaannya aku.

Maaf yah sayang, mungkin kemarahan kemaren bikin Aogi takut kita selesai dan niat baik kita hancur. Tenang sayang, aku gak separah itu buat ambil keputusan. Selama itu hal kecil yang masih bisa kita perbaiki pasti aku ajak Aa buat perbaiki itu. Aku dengan Aogi, bukan ingin menjadi dominan atau sebaliknya, aku ingin kita bareng-bareng buat jalanin semuanya. Alhamdulilah Allah masih kasih kesempatan baik lagi buat kita. Ulan sayang Aogi,,

Jumat, 24 Januari 2014

24 Januari 2014, trimakasi Sayangku Yogi Sudrajat

Aogi, hari ini aku merasa sendirian. Saat harus ngeliat Mamah berteriak dan berbicara sendiri. Gak ada adik gak ada kakak dan Babeh lagi pergi, aku lelah hari ini. Untuk itu aku mulai mantap ingin menikah dengamu. Mungkin aku memang pernah ragu apakah ini betul-betul serius? Atau sama seperti yang lalu? Tapi aku betul-betul membutuhkanmu. Saat aku penat dan ingin ada seseorang yang memelukku, aku rasa canggung harus memeluk ayahku, terlalu dewasa untuk memeluk Babeh. Untuk memeluk Mamah, sekarang sudah tak setenang dulu. Bahkan yang ada msalah itu serasa timbul dari Mamah sendiri. Aku tidak ada sandaran untuk merebahkan diri, untuk itu aku berharap Aogi yang mampu menjadi sandaran itu.

Aku masih canggung untuk harus menangis padamu. Bukan aku tegar, akupun wanita biasa yang ditakdirkan lebih mampu meneteskan air mata ketimbang menahannya menjadi kesakitan di dada. Aku hanya tak ingin memebebanimu, aku ingin kamu mengenalku dengan aku yang kuat bukan dengan aku yang manja dan cengeng. Tetapi kenyataannya pada siapalagi aku berbagi jika bukan padamu. Bagiku saat ini Aogi bukan hanya sekedar kekasihku, tapi sudah bagian dari hidupku.

Dan benar, hari ini aku meluapkan tangisanku padamu. Aku menelponmu, berusaha menahan tangisku dan hanya ingin Aogi menemaniku. Tapi aku terlalu cengeng untuk itu. Aku menangis, aku menceritakan diriku. Aku takut Aogi risih dengan aku begini makanya aku selalu berusaha semuanya sendiri. Maaf aku membawamu dalan kesulitanku. Aku ingin membuatmu bangga, karena aku tak ingin menampilkan kesusahanku saat hidup denganmu. Tapi kenyataannya begini A.

"Mau Ulan manja, cengeng, atau keluarga ulan bagaimanapun, semua itu gak akan mengurangi pendirian Aa ke Ulan. Gak akan merubah sayang Aa ke Ulan."
kalimat itu cukup menenangkanku Sayang. Jika saja saat ini Aogi ada disini dan kita bisa ketemu, rasanya ingin memeluk Aogi. Tapi sayangnya kita terlalu jauh.

Aogi tahu? Babeh, akan merasa lebih tenang melihat aku kelak dipinta olehmu. Bahkan ketika aku harus keluar dari rumah dan berjauhan dengan orang tuaku, mereka akan jauh lebih tenang. Terimakasih sudah mau menerimaku, keadaanku, orang tuaku, dan segala hal yang tak sempurna dariku. Aku memang tak pernah memanggilmu "sayang", "Cinta", "Honey", atau panggilan sayang lainnya. Aku juga tak pernah memberi kecupan dari telpon untukmu, sebelum Aogi tertidur. Tapi aku sangat tidak ingin kehilanganmu, jika saja kali ini aku boleh meminta pada Allah, aku hanya ingin selalu dengamu. Janganlah sampai Allah menggambilmu dari kehidupanku. Aku ingin denganmu, aku ingin Aa yang jadi suami, yang jadi pelengkap dari orang tuaku.

***
Semoga Allah menyertai langkah kita Sayang, Aku mencintamu.

Kamis, 23 Januari 2014

Mamah lagi

Kapan Mamah sembuh? Kapan Mamah seperti dulu? Aku setiap hari menunggu itu, tau kah Mamah tentang itu?
Mamah masih sayang aku? Kenapa Mamah masih begini? Kenapa Tuhan?
Mamah, aku butuh support dari Mamah. Aku tahu keterbatasan Mamah, tapi sekecil apapun Mamah, buat aku itu adalah motivasi dan kekuatan terbesarku. Ayo Mamah sembuh, ayo Mamah kembali membaik. Paling tidak itu membantuku untuk lebih kuat. Tidak perlu Mamah berteriak, tidak perlu Mamah berbicara sendiri, aku disini Mamah mau mendengarkan apa yang ingin Mamah ceritakan.
Mamah, semangat yah, aku masih bisa bertahan menunggu hari dimana Mamah betul-betul sembuh dan melihat aku dengan baik, meskipun tidak aku pungkiri aku lelah menunggu waktu yang entah terjadi atau tidak. Tiap hari aku selalu meminta Tuhan untuk menyembuhkan Mamah, rasanya ingin kesal pada Tuhan, rasanya ingin marah pada Tuhan karena dia tidak menyembuhkan Mamah, tapi siapa aku sampai berani protes sama Tuhan?
Aku malu Mamah begini dan aku rasa ini manusiawi, tapi kalau bukan karena kau malaikat dari Tuhanku mungkin aku tidak sekuat ini. Aku mungkin dulu pernah membuat Mamah malu, ampuni aku, Mamah. Aku pernah merepotkanmu, lantas kenapa aku mengeluh saat Mamah sekarang begini? Aku tidak bisa marah, tapi aku benar-benar sudah kesal, Mah. Aku cape, meskipun rasanya ingin aku tidak mengeluh.
Mamah bertanya kenapa aku menangis? Taukah kenapa? Aku ingin mamah sembuh, aku ingin Mamah seperti dulu, aku kesal diriku tidak berguna, aku kesal tidak bisa berbuat apa-apa. Dan menangis adalah caraku menyesali diriku sendiri. Aku masih waras untuk mengakhiri hidup, tapi ini berat untukku, Mah. Mamah tau kah itu?

Maaf Yah Aku gak bisa jadi Kebanggaan

Babeh, aku mencintai lelaki lain selain dirimu. Tau gak Beh, aku merasa dia hampir sama denganmu. Baiklah memang secara fisik dan tabeat sedikit berbeda. Tapi apa yang Babeh pengen insya Allah ada di dia. Aku menyukainya, aku ingin mengalah untuknya, aku ingin hidup bersamanya, aku ingin dia yang menjadi imamku, dan aku ingin menikah dengannya. Aku akhirnya menemukan orang yang mampu menerimaku, dan sesuai yang diharapkan, Babeh tahu? ini adalah kiriman Allah untukku, aku yakin itu.

Babeh, sudah 27 Januari 2014 ini, usia pacaranku dengannya sudah 7bulan. Rasanya banyak bahagia hidup dengan dia meskipun yaaahhh memang kita berjauhan. Tapi dia adalah satu tujuanku yang berikutnya. Bagiku masalalu yang pernah kuperjuangkan sudah berakhir, aku hanya ingin menjadi wanita yang mampu menjadi kebanggaannya bukan menjadi apa yang bisa membuat iri bekas pacarku. Pilihan Babeh benar-benar tepat.

Babehku sayang, kini dua pria berada di hidupku, Babeh dan juga dia. Kalian adalah laki-laki luar biasa yang patut kuberi kebanggaan. Tapi sayang, impianku tak bisa aku wujudkan sendiri. Entah ini tidak bersyukur atau memang aku pantas bermimpi. Aku masih ingat waktu Babeh bercita-cita aku menjadi seorang Polwan. Itu luar biasa, tapi maafkan aku Babeh sayang, aku tidak menjadi apa yang Babeh inginkan. Bagiku meskipun aku sangat tidak suka TNI dan POLRI, andaikan saja aku bisa menjadi itu aku pasti mengorbankan semuanya untuk jadi yang Babeh mau. Kenyataannya aku gagal, Beh. Ini menyakitkan. Aku sendirian, tapi aku tak bisa buat Babeh bangga, maaf. Dan ini tidak bisa aku perbaiki, maaf.

Ku buat hal lain yang mungkin bisa membuat Babeh bangga, aku sudah mencoba untuk PNS Beh, mungkin memang tidak terlalu kuat harapanku disana tapi kembali aku gagal. Babeh tahu, rasanya aku tidak berguna. Aku tidak peduli dengan siapapun, hanya ingin Babeh bisa bahagia itu cukup. Sekarang aku bertemu dia, dan Babeh tahu? Aku ingin juga membuatnya bangga, tapi sepertinya aku tidak bisa jadi orang kebanggaannya. Lagi-lagi priaku harus kecewa olehku. Babeh, terkadang aku malu dan minder bersama dengan dia. Dia memang tidak pernah mengeluh tentangku, dia cukup bisa menerima apapun tentangku. Setiap kali ingat wanita-wanita yang pernah bersama dia, aku merasa sangat payah. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka, Beh. Mereka keren Beh, mereka cantik, mereka jauh lebih sukses dibandingkan aku, mereka jauh lebih baik dari aku, aku tak punya apapun. Dari fisik aku tak lebih baik, dari finansial jelas aku tak membanggakan, dari sifat aku jauh tak lebih baik, apakah aku tiak bersyukur, Beh?

Sampai kapan aku mengecewakan kalian?

Rabu, 22 Januari 2014

PDKT Wulan_Aogie

Ini pacarku, namanya Yogi Sudarajat. Dia itu sebenrnya kakak kelas aku dari SMP sampai SMA tapi sayangnya dulu gak pernah kenal. Hmmm dia itu supel, banyak becanda dan kadang bikin pengen nyubit, terus lagi dia itu bertanggung jawab, kadang-kadang romantis banget, pokoknya perfect untuk saat ini dan semoga sampai seterusnya, Aamiin.

15 November 1990 adalah tanggal kelahirannya, oke nyerah kalo udah ngobrolin tanggal lahir soalnya lebih duluan aku tiga bulan lahirnya hehehhe so aku dapetin brondong critanya hihihihi. Aku biasa panggil dia dengan sebutan "AA" dan dia suka dipanggil "Aogie".

Oke, aku mulai cerita dari mana yah? Hmmmm dari mulai kenalnya kita aja yah.
Kita sama-sama lulusan dari SMP Negeri 1 Lembang dan juga SMA Negeri 1 Lembang, dia selalu menjadi kakak kelasku tapi selama 6 tahun bersama kita tidak pernah saling kenal. Dan barulah selesai aku kuliah aku baru mengenalnya. Aku punya seorang sahabat bernama Mita dan sering banget tuh ketemuin dia kerumahnya. sampe suatu hari di sekitar akhir 2012, aku bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang secara dandanan begitu modis dan terlihat terawat. Hanya saling melempar senyum itulah kenyataannya. Dan tiba-tiba Mamah Mita meminta nomor ponselku, alamat facebook-ku, dan menanyaiku tentang kedekatanku dengan beberapa pria. Alhasil ternyata wanita yang berpapasan sebelumnya mencoba menjodohkanku dengan anak bujangnya. Hello ku pikir ini sangat tidak masuk akal. Beliau mencoba menjodohkanku dengan anaknya yang sedang bertugas di Kalimantan Tengah, sementara sekarang posisiku di pulau Jawa.

Bulan Februari 2013, seorang pria menginvite pin BB ku. Dan ternyata itulah dia. Dimulai dengan percakapan kecil slaing lempar sapaan dan tidak ada yang istimewa. Waktu itu aku memang sedang punya pacar yang usianya jauh denganku, aku 23tahun dan dia 34tahun, perfect untuk masa depan yupz pikiran awalnya memang begitu tapi kenyataannya dia tidak memiliki masa depan yang sesuai dengan harapan babehku tercinta. Begitupun dengan Aogi yang juga sedang kasmaran dengan wanita. Intinya kita kenal karena orang tua kita. lama kelamaan aku cerita sama babeh, soal pacarku dan juga Aogi. Jelas-jelas kita cuma bbm-an tapi babeh rasanya lebih tertarik sama Aogi. Sampe akhirnya akupun berubah haluan karena melihat babeh menyukainya. Lama-lama lumayan tertarik juga walaupun komunikasi cuma dari BBm dan gak pernah telpon (kalo gak salah).

Rencana awal buat dia pulang ke Lembang sekitar bulan Maret ternyata gagal total, ta apalah toh belum pacaran juga, pdkt pun kayaknya bukan. Cuma serahin aja sama Allah, kalau memang Aogi rejekiku maka besok atau lusa pasti kita ketemu. Sampai di bulam Mei, aku dapet job tambahan dari Dinas Kabupaten Bandung Barat buat ikut proyek riset kesehatan dasar 2013. Pelatihan di Cianjur selama 1 minggu yang berkelanjutan riset di bulan Juni awal. Dan di jadwal yang padat itupula Aogi dijadwalkan pulang ke Lembang. Kecil harapan memang buat ketemu dan bisa melanjutkan pertemanan, tapi sudahlah kembalikan lagi sama Allah.

Kalau gak salah tanggal 9 Juni 2013 dia pulang ke Lembang dan tepat banget jadwal double job aku lagi berlangsung. Pagi aku harus bolak-balik Cikalong Wetan-Lembang dan malamnya dinas di Rumah Bersalin Buah Hati (waktu itu), kapan bisa ketemunya coba? Arrrrrggghhhh memang gak dikasih kesempatan bareng kali yah? Eeeeiiiittt tapi Allah itu memang kuasa atas segala apapun. di tengah kesibukanku, ternyata Aogi menyempatkan untuk jalan-jalan bareng. Duh kita nih lagi pdkt apa apaan sih ini, rasanya deg-degan ketemu pertama, dengan keadaan kucel-kucelnya si sayah yang penuh kesibukan, yang gak lagi oke pokoknya. hari pertama ketemu Minggu 10 Juni 2013, jalan-jalan ke BIP dan nonton Fast n Furious 6. Uuuggghhh masih inget aku waktu ada adegan menakjubkan di film itu, salting banget lah pas adegan pas aku inget lagi nonton ama dia, mau sharing mesum pun gak bisa soalnya canggung, mau diam tanpa kata takut disangka macem-macem aaaarrrggghhhh pokoknya gugup waktu itu. Akhirnya memilih buat diam terus ketawa kecil aja. Selese nonton kita makan noh di sebrang BIP sambil solat dulu kalo gak salah. Pulang dari sana cepet-cepet deh kita pulang.

Hari berikutnya, 11 Juni 2013 kita ketemu lagi dan kali ini jalan-jalan ke Kebon Binatang Bandung. Sumpah ngakak nih jalan-jalan ahahahhahahha, niat awalnya mw refreshing sih tapi taunya ekh liat penghuni bonbinnya malah jadi sedih dan miris abisnya tuh bonbin gak keurus banget dah. Tadinya mau naik gajah nih gantian atau gak barengan gitu berdua kayak bocah aja dah kita, tapi gak jadi soalnya gajahnya budugan. Oke pilih yang lain lagi, naaahhhh ini dia ada unta biar berasa di arab gitu naik unta. Pas mau naik nih mamang penjaganya malah lagi istirahat daaaaahhhh tambah pas liat untanya juga kurus dan budugan pula. hmmmmm hilang selera, kalo begini terus lama-lama kita pilih buaya aja kali yah wakakkakak. sampe dzuhur kita jalan-jalan dan sempetin solat di bonbin sanah. Rasanya nyaman jalan-jalan sama nih orang padahal baru 2 kali jalan, sayangnya jadwal keesokan harinya harus kebagian kerja ke Cikalong lagi.

12 Juni 2013, nih anak masih ngintil juga ternyata. Emang sih pengen terus bareng-bareng sama dia tapi kalo harus dia ikut ke Cikalong kayaknya kasian belum lagi gak tega liat dia harus ngeliat kerjaanku. Dia tetep aja nekat buat ikut dan akhirnya kitapun berangkat ke Cipatat (Pindah lokasi dari Cikalong ke Cipatat). Karena taunya temen-temen aku udah nikah kepaksa deh dia yang ditumbalin jadi suamiku. Bawa-bawa tas gedeku yang beratnya audubilah, mesti lewatin jalanan sawah kecil, panas-panasan, dan keadaan menyedihkan lainnya. kelaperan di pelosok bareng pdkt-an itu rasanya wow banget, muka kucel depan pdkt-an itu rasanya arrgghh banget, tapi mungkin disitulah puncak penentuan pemilihan pacar sesungguhnya. Gak muluk-muluk bakal jadian setelah dia liat kerjaanku yang mungkin bukan di level dia tapi cuek aja deh, kalau rejekiku Allah akan kasih dia buatku.

Dan sampe di hari Jum'at puncak aku merasa ilfeel sama Aogi. Sempet tahu kalo dia ketemu dengan mantannya "Kiki" di floating market. Pagi sempet BBm dan baru Magrib BBm aku lagi. hari itu betul-betul aku memutuskan buat gak pengen lanjutin pdkt lagi sama dia. Jelas bete donk, masa katanya pdkt apa aku tapi ketemuin mantannya, aaaarrrggghhh ogah banget. Kalo masih ngarep mantan, mending aku cari orang lain lagi lah. Dan sampe akhirnya dia pulang lagi ke Sampit, aku gak sempet ketemu lagi sama dia. Aku bahkan gak balas BBm dia waktu dia pamit balik ke Sampit. Baru keesokan harinya aku beranikan diri untuk bertanya soal kelanjutan pdkt kita, bukan berarti aku ingin dia denganku tapi meyakinkanku dan juga dia bahwa kita memang tidak melanjutkan semuanya dan aku balik ke kehidupanku sebelumnya. Aogi memperlihatkan ketidaksukaannya padaku "Yaudah kalo Ulan mau coba dengan yang lain silahkan, kalo jodoh mah ga akan kemana". Yup kayaknya ini semua benar-benar berakhir. Aku kembali menjalani kehidupanku dengan pacarku, mencoba meyakinkan orang-tuaku bahwa dia lebih baik dari Aogi. Tapi babeh tetap gak yakin, dia malah lebih yakin sama Aogi yang belum sempet ketemu dengan dia (oke memang keduanya belum ketemu pada waktu itu sama babeh). Hubunganku dengan pacarku makin intens tapi rasanya keyakinanku semakin pudar. Padahal orang tuanya sudah menyebutkan bahwa aku adalah calon istri dari pacarku. Gawat bener dah.

26 Juni 2013 tepat di hari ulang tahun pacarku, Aogi kembali dengan aksinya. Setelah aku menyelesaikan pendekatan kita sebelumnya, dia kembali mencoba memperbaiki semuanya entah mencoba peruntungan lagi. Dengan kalimat ambigunya, Aogi mengajak pacaran, ahahhahaha konyol tapi oke juga buat anak muda. "Nyonya POS" itulah cara dia mengajak aku menjadi pacarnya. Sempat tidak terlalu aku gubris karena aku merasa dia membuang kesempatannya dan setelah aku mencoba baik dengan pacarku dia baru menyatakan itu, TERLAMBAT. Keesokan harinya 27 Juni 2013, dia menelponku dan dengan cukup serius mengajakku untuk mencoba berhubungan dengannya. Mengingat akupun suka padanya, dan babehku menyukainya akhirnya "Ya" itulah jawabanku. Kupikir dia tidak benar-benar menginginkanku untuk berhubungan lebih serius jadi aku menjalaninya yah mengalir saja tidak terlalu berjuang mempertahankan. Mungkin karena penasaranku keburu hilang sejak tahu dia bertemu mantannya tempo lalu.

Mungkin memang sudah jalan Allah, dan atas restu orang tuaku. Hubunganku dengan pacarku sebelumnya berakhir dan akhirnya setelah istiqharah aku menjatuhkan pilihanku ke Aogi. Cukup berbelok-belok, turun-naik, dan maju-mundur pada akhirnya cinta yang kupilih adalah karena restu orang-tua dan sudah jelas karena-Nya. Bismillah.....

Senin, 13 Januari 2014

Mamah

Dan hari-hari seperti ini kembali terjadi. Yaa Allah entah ini ujian atau memang ini adalah azab, hingga aku tak mampu membedakannya.

Masih ingat dengan kejadian di 2009 lalu. Dihari ulang tahunku yang ke 18, mamah terkhir mengingatku. Aku tahu betul saat itu mamah sedang tak memegang uang sedikitpun. Di akhir acara ulang tahunku ini Mamah bersamaku membuka kado-kado dari sahabat terdekatku. dan tahukah itu adalah kali terakhirnya Aku merasa mamah ada. Keesokan harinya seharian mamah tak ada di rumah, entah kemana. dan ketika pulang, beliau membawa tiga boneka, sebuah sandal boneka, dan sebuah kalung emas berliontin love. Dia memelukku, menciumku dan berkata 'Maafin Mamah, kemarin gak ada uang buat beliin kamu kado." Jika aku mengingat hari itu, rasanya menyakitkan yaa Allah. Ternyata itu adalah hari terakhir Mamah ingat padaku. Keesokan harinya keadaan sudah berubah. Rumah yang dulu menjadi tempat paling aku rindukan, menjadi tempat yang paling aku ingin hindari.
Mamah, setiap hari berteriak, setiap hari harus mencaci Bapa, setiap hari harus menutup telinga dengan obrolan Mamah yang entah mamah sedang bersama dengan siapa. Mamah terkadang harus pergi dari rumah tengah malam karena bisikan yang tak tahu berasal dari mana. Terkadang Mamah pun tertawa sendirian, mengobrol sendirian. Yaa Allah ini menyakitkan untukku. Harus bertahun-tahun aku dan juga Bapa mengikuti arus yang seperti ini. Mamah bahkan lupa dengan aku, Mamah tak menghiraukan aku. Hanya Bapa yang bersamaku, itu tak cukup membuatku nyaman. Sampai ketika Mamah belum juga sembuh, aku tak tega melihat Bapa harus kesepian dan dengan terpaksa aku bertanya "Pap, apa ada pikiran untuk menikah lagi dengan keadaan Mamah begini?", aku tak ingin mengkhianati Mamah, Aku tak ingin Mamah sendirian, aku tak ingin Mamah melewati ini tanpa kami tapi disisi lain aku tak boleh egois.
"Engga, sudah tua begini gak berpikir sampai sejauh itu. Perjuangan Bapa cuma kamu, kalaupun Mamah begini, kita berdoa saja, insya Allah Allah pun gak akan terus menguji kita begini"
Sebegitu hebatnya Bapa, terkadang aku ingin bertanya langsung Yaa Allah kenapa harus menguji sehebat ini untuk Bapa yang begitu bertanggung jawabnya pada kami?

Dan di 2012 keajaiban Allah muncul. Mamah sembuh dengan sendirinya. Dua tahun berjalan dan mamah sembuh. Aku bersyukur menjalani kehidupanku. Sampai akhirnya 2013 berlalu.

Yaa Allah cobaan ini kembali datang. Aku berharap ini bukan azab tetapi hanya ujian saja Yaa Allah. Kembali aku harus mendengar mamah mengobrol sendiri, kembali aku harus melihat mamah pergi dari rumah, kembali aku harus mendengar mamah berteriak. Mamah tidak pernah berkata kasar padaku sejak aku masih kecil, aku ingat betul itu Mamah. Tapi sekarang Mamah berubah "Anjing" keluar dari mulut mamah yang selalu memanjakan aku, dimana Mamah yang dulu? Bahkan ketika aku menangis mengadu ketidak nyamananku dengan Mamah yang sekarang, Mamah hanya tertawa tanpa mendengar dengan baik apa yang aku ceritakan. Aku ingin seperti yang lain, aku tak ingin meminta sesuatu yang tak bisa Mamah dan Bapa berikan, aku hanya ingin saat aku sakit dan menangis Mamah ada mendengarkan dan memelukku. Aku tahu Bapa mampu memahamiku tapi aku pun butuh Mamah.

"Mamah, dengarkan aku. Aku ingin bercerita, aku ingin membanggakan seseorang. Mamah, saat ini aku bahagia. Setelah aku melewati hari-hari bersama kekasihku yang dulu dan berujung dengan sakit hati, sekarang aku mendapatkan seorang lelaki yang terbaik. Mamah tahu, aku mencintainya dan aku merasakan dia mencintaiku dengan tulus. Dia seorang lelaki yang sesuai dengan apa yang selalu Bapa harapkan. Dia memiliki paras yang tampan seperti apa yang mamah inginkan. Dia dari keluarga baik-baik, memiliki masa depan yang lebih baik, berpendidikan setara denganku, dan yang terpenting dia baik dalam agama. Dia menghargai aku sebagai seorang wanita, dia tidak menyentuhku, dia banyak mengajarkanku, daia lelaki yang bertanggung jawab, dan yang terpenting dia menerima semua tentang keluarga kita. Baru kali ini aku merasa begitu jadi seorang wanita yang beruntung dan dihargai. Dia tidak membentakku, dia tidak berkata kasar padaku, dia tidak egois, dia mau dengan sabar mengalah. Mamah, aku sekarang akan punya tiga orang adik dari dia, punya lagi seorang ayah dan seorang ibu yang semoga beliau sepertimu dalam mencintaiku. Mamah, dia tak hanya sekedar menjadi pacarku, tetapi sekarang lelaki ini mengajak aku menikah. Aku bahagia, aku bangga, aku gugup, aku awam, aku tak tahu sekarang seperti apa perasaanku. Ini impian besarku dengan seorang pria yang aku  cintai. Aku sudah menceritakan ini pada bapa, dan dia menyambutnya dengan bahagia. Sekarang aku butuh Mamah, aku ingin Mamah mengomentari persiapan pernikahanku. Yah memang belum diputuskan akan berlangsung di bulan apa, tapi insya Allah tahun 2014 ini sesuai apa yang ditargetkan pacarku. Ibunya dan ayahnya pun sudah menjelaskan tentang maksudnya padaku. Tolong Mamah ada disampingku, tolong kembali seperti dulu. Mungkin saat membeli barang untuk seserahan, souvenir, undangan dan lainnya aku pergi dengan Ibu, tapi aku ingin saat siraman nanti Mamah sembuh dan ada disampingku mengkhayati prosesi demi prosesinya. Ketika siraman nanti itu simbolis dimana Mamah yang dulu memandikanku dan itu akan jadi terakhir kalinya Mamah dan Bapa memandikanku karena setelah itu lelaki-ku akan membawaku. Aku tahu Mamah tak punya materi untuk membantu pernikahanku tetapi yang lebih penting untukku adalah dukungan Mamah secara batin, Mamah ada disampingku, dan Mamah sembuh".