Jumat, 24 Januari 2014

24 Januari 2014, trimakasi Sayangku Yogi Sudrajat

Aogi, hari ini aku merasa sendirian. Saat harus ngeliat Mamah berteriak dan berbicara sendiri. Gak ada adik gak ada kakak dan Babeh lagi pergi, aku lelah hari ini. Untuk itu aku mulai mantap ingin menikah dengamu. Mungkin aku memang pernah ragu apakah ini betul-betul serius? Atau sama seperti yang lalu? Tapi aku betul-betul membutuhkanmu. Saat aku penat dan ingin ada seseorang yang memelukku, aku rasa canggung harus memeluk ayahku, terlalu dewasa untuk memeluk Babeh. Untuk memeluk Mamah, sekarang sudah tak setenang dulu. Bahkan yang ada msalah itu serasa timbul dari Mamah sendiri. Aku tidak ada sandaran untuk merebahkan diri, untuk itu aku berharap Aogi yang mampu menjadi sandaran itu.

Aku masih canggung untuk harus menangis padamu. Bukan aku tegar, akupun wanita biasa yang ditakdirkan lebih mampu meneteskan air mata ketimbang menahannya menjadi kesakitan di dada. Aku hanya tak ingin memebebanimu, aku ingin kamu mengenalku dengan aku yang kuat bukan dengan aku yang manja dan cengeng. Tetapi kenyataannya pada siapalagi aku berbagi jika bukan padamu. Bagiku saat ini Aogi bukan hanya sekedar kekasihku, tapi sudah bagian dari hidupku.

Dan benar, hari ini aku meluapkan tangisanku padamu. Aku menelponmu, berusaha menahan tangisku dan hanya ingin Aogi menemaniku. Tapi aku terlalu cengeng untuk itu. Aku menangis, aku menceritakan diriku. Aku takut Aogi risih dengan aku begini makanya aku selalu berusaha semuanya sendiri. Maaf aku membawamu dalan kesulitanku. Aku ingin membuatmu bangga, karena aku tak ingin menampilkan kesusahanku saat hidup denganmu. Tapi kenyataannya begini A.

"Mau Ulan manja, cengeng, atau keluarga ulan bagaimanapun, semua itu gak akan mengurangi pendirian Aa ke Ulan. Gak akan merubah sayang Aa ke Ulan."
kalimat itu cukup menenangkanku Sayang. Jika saja saat ini Aogi ada disini dan kita bisa ketemu, rasanya ingin memeluk Aogi. Tapi sayangnya kita terlalu jauh.

Aogi tahu? Babeh, akan merasa lebih tenang melihat aku kelak dipinta olehmu. Bahkan ketika aku harus keluar dari rumah dan berjauhan dengan orang tuaku, mereka akan jauh lebih tenang. Terimakasih sudah mau menerimaku, keadaanku, orang tuaku, dan segala hal yang tak sempurna dariku. Aku memang tak pernah memanggilmu "sayang", "Cinta", "Honey", atau panggilan sayang lainnya. Aku juga tak pernah memberi kecupan dari telpon untukmu, sebelum Aogi tertidur. Tapi aku sangat tidak ingin kehilanganmu, jika saja kali ini aku boleh meminta pada Allah, aku hanya ingin selalu dengamu. Janganlah sampai Allah menggambilmu dari kehidupanku. Aku ingin denganmu, aku ingin Aa yang jadi suami, yang jadi pelengkap dari orang tuaku.

***
Semoga Allah menyertai langkah kita Sayang, Aku mencintamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar