Masih ingat dengan kejadian di 2009 lalu. Dihari ulang tahunku yang ke 18, mamah terkhir mengingatku. Aku tahu betul saat itu mamah sedang tak memegang uang sedikitpun. Di akhir acara ulang tahunku ini Mamah bersamaku membuka kado-kado dari sahabat terdekatku. dan tahukah itu adalah kali terakhirnya Aku merasa mamah ada. Keesokan harinya seharian mamah tak ada di rumah, entah kemana. dan ketika pulang, beliau membawa tiga boneka, sebuah sandal boneka, dan sebuah kalung emas berliontin love. Dia memelukku, menciumku dan berkata 'Maafin Mamah, kemarin gak ada uang buat beliin kamu kado." Jika aku mengingat hari itu, rasanya menyakitkan yaa Allah. Ternyata itu adalah hari terakhir Mamah ingat padaku. Keesokan harinya keadaan sudah berubah. Rumah yang dulu menjadi tempat paling aku rindukan, menjadi tempat yang paling aku ingin hindari.
Mamah, setiap hari berteriak, setiap hari harus mencaci Bapa, setiap hari harus menutup telinga dengan obrolan Mamah yang entah mamah sedang bersama dengan siapa. Mamah terkadang harus pergi dari rumah tengah malam karena bisikan yang tak tahu berasal dari mana. Terkadang Mamah pun tertawa sendirian, mengobrol sendirian. Yaa Allah ini menyakitkan untukku. Harus bertahun-tahun aku dan juga Bapa mengikuti arus yang seperti ini. Mamah bahkan lupa dengan aku, Mamah tak menghiraukan aku. Hanya Bapa yang bersamaku, itu tak cukup membuatku nyaman. Sampai ketika Mamah belum juga sembuh, aku tak tega melihat Bapa harus kesepian dan dengan terpaksa aku bertanya "Pap, apa ada pikiran untuk menikah lagi dengan keadaan Mamah begini?", aku tak ingin mengkhianati Mamah, Aku tak ingin Mamah sendirian, aku tak ingin Mamah melewati ini tanpa kami tapi disisi lain aku tak boleh egois.
"Engga, sudah tua begini gak berpikir sampai sejauh itu. Perjuangan Bapa cuma kamu, kalaupun Mamah begini, kita berdoa saja, insya Allah Allah pun gak akan terus menguji kita begini"
Sebegitu hebatnya Bapa, terkadang aku ingin bertanya langsung Yaa Allah kenapa harus menguji sehebat ini untuk Bapa yang begitu bertanggung jawabnya pada kami?
Dan di 2012 keajaiban Allah muncul. Mamah sembuh dengan sendirinya. Dua tahun berjalan dan mamah sembuh. Aku bersyukur menjalani kehidupanku. Sampai akhirnya 2013 berlalu.
Yaa Allah cobaan ini kembali datang. Aku berharap ini bukan azab tetapi hanya ujian saja Yaa Allah. Kembali aku harus mendengar mamah mengobrol sendiri, kembali aku harus melihat mamah pergi dari rumah, kembali aku harus mendengar mamah berteriak. Mamah tidak pernah berkata kasar padaku sejak aku masih kecil, aku ingat betul itu Mamah. Tapi sekarang Mamah berubah "Anjing" keluar dari mulut mamah yang selalu memanjakan aku, dimana Mamah yang dulu? Bahkan ketika aku menangis mengadu ketidak nyamananku dengan Mamah yang sekarang, Mamah hanya tertawa tanpa mendengar dengan baik apa yang aku ceritakan. Aku ingin seperti yang lain, aku tak ingin meminta sesuatu yang tak bisa Mamah dan Bapa berikan, aku hanya ingin saat aku sakit dan menangis Mamah ada mendengarkan dan memelukku. Aku tahu Bapa mampu memahamiku tapi aku pun butuh Mamah.
"Mamah, dengarkan aku. Aku ingin bercerita, aku ingin membanggakan seseorang. Mamah, saat ini aku bahagia. Setelah aku melewati hari-hari bersama kekasihku yang dulu dan berujung dengan sakit hati, sekarang aku mendapatkan seorang lelaki yang terbaik. Mamah tahu, aku mencintainya dan aku merasakan dia mencintaiku dengan tulus. Dia seorang lelaki yang sesuai dengan apa yang selalu Bapa harapkan. Dia memiliki paras yang tampan seperti apa yang mamah inginkan. Dia dari keluarga baik-baik, memiliki masa depan yang lebih baik, berpendidikan setara denganku, dan yang terpenting dia baik dalam agama. Dia menghargai aku sebagai seorang wanita, dia tidak menyentuhku, dia banyak mengajarkanku, daia lelaki yang bertanggung jawab, dan yang terpenting dia menerima semua tentang keluarga kita. Baru kali ini aku merasa begitu jadi seorang wanita yang beruntung dan dihargai. Dia tidak membentakku, dia tidak berkata kasar padaku, dia tidak egois, dia mau dengan sabar mengalah. Mamah, aku sekarang akan punya tiga orang adik dari dia, punya lagi seorang ayah dan seorang ibu yang semoga beliau sepertimu dalam mencintaiku. Mamah, dia tak hanya sekedar menjadi pacarku, tetapi sekarang lelaki ini mengajak aku menikah. Aku bahagia, aku bangga, aku gugup, aku awam, aku tak tahu sekarang seperti apa perasaanku. Ini impian besarku dengan seorang pria yang aku cintai. Aku sudah menceritakan ini pada bapa, dan dia menyambutnya dengan bahagia. Sekarang aku butuh Mamah, aku ingin Mamah mengomentari persiapan pernikahanku. Yah memang belum diputuskan akan berlangsung di bulan apa, tapi insya Allah tahun 2014 ini sesuai apa yang ditargetkan pacarku. Ibunya dan ayahnya pun sudah menjelaskan tentang maksudnya padaku. Tolong Mamah ada disampingku, tolong kembali seperti dulu. Mungkin saat membeli barang untuk seserahan, souvenir, undangan dan lainnya aku pergi dengan Ibu, tapi aku ingin saat siraman nanti Mamah sembuh dan ada disampingku mengkhayati prosesi demi prosesinya. Ketika siraman nanti itu simbolis dimana Mamah yang dulu memandikanku dan itu akan jadi terakhir kalinya Mamah dan Bapa memandikanku karena setelah itu lelaki-ku akan membawaku. Aku tahu Mamah tak punya materi untuk membantu pernikahanku tetapi yang lebih penting untukku adalah dukungan Mamah secara batin, Mamah ada disampingku, dan Mamah sembuh".
"Engga, sudah tua begini gak berpikir sampai sejauh itu. Perjuangan Bapa cuma kamu, kalaupun Mamah begini, kita berdoa saja, insya Allah Allah pun gak akan terus menguji kita begini"
Sebegitu hebatnya Bapa, terkadang aku ingin bertanya langsung Yaa Allah kenapa harus menguji sehebat ini untuk Bapa yang begitu bertanggung jawabnya pada kami?
Dan di 2012 keajaiban Allah muncul. Mamah sembuh dengan sendirinya. Dua tahun berjalan dan mamah sembuh. Aku bersyukur menjalani kehidupanku. Sampai akhirnya 2013 berlalu.
Yaa Allah cobaan ini kembali datang. Aku berharap ini bukan azab tetapi hanya ujian saja Yaa Allah. Kembali aku harus mendengar mamah mengobrol sendiri, kembali aku harus melihat mamah pergi dari rumah, kembali aku harus mendengar mamah berteriak. Mamah tidak pernah berkata kasar padaku sejak aku masih kecil, aku ingat betul itu Mamah. Tapi sekarang Mamah berubah "Anjing" keluar dari mulut mamah yang selalu memanjakan aku, dimana Mamah yang dulu? Bahkan ketika aku menangis mengadu ketidak nyamananku dengan Mamah yang sekarang, Mamah hanya tertawa tanpa mendengar dengan baik apa yang aku ceritakan. Aku ingin seperti yang lain, aku tak ingin meminta sesuatu yang tak bisa Mamah dan Bapa berikan, aku hanya ingin saat aku sakit dan menangis Mamah ada mendengarkan dan memelukku. Aku tahu Bapa mampu memahamiku tapi aku pun butuh Mamah.
"Mamah, dengarkan aku. Aku ingin bercerita, aku ingin membanggakan seseorang. Mamah, saat ini aku bahagia. Setelah aku melewati hari-hari bersama kekasihku yang dulu dan berujung dengan sakit hati, sekarang aku mendapatkan seorang lelaki yang terbaik. Mamah tahu, aku mencintainya dan aku merasakan dia mencintaiku dengan tulus. Dia seorang lelaki yang sesuai dengan apa yang selalu Bapa harapkan. Dia memiliki paras yang tampan seperti apa yang mamah inginkan. Dia dari keluarga baik-baik, memiliki masa depan yang lebih baik, berpendidikan setara denganku, dan yang terpenting dia baik dalam agama. Dia menghargai aku sebagai seorang wanita, dia tidak menyentuhku, dia banyak mengajarkanku, daia lelaki yang bertanggung jawab, dan yang terpenting dia menerima semua tentang keluarga kita. Baru kali ini aku merasa begitu jadi seorang wanita yang beruntung dan dihargai. Dia tidak membentakku, dia tidak berkata kasar padaku, dia tidak egois, dia mau dengan sabar mengalah. Mamah, aku sekarang akan punya tiga orang adik dari dia, punya lagi seorang ayah dan seorang ibu yang semoga beliau sepertimu dalam mencintaiku. Mamah, dia tak hanya sekedar menjadi pacarku, tetapi sekarang lelaki ini mengajak aku menikah. Aku bahagia, aku bangga, aku gugup, aku awam, aku tak tahu sekarang seperti apa perasaanku. Ini impian besarku dengan seorang pria yang aku cintai. Aku sudah menceritakan ini pada bapa, dan dia menyambutnya dengan bahagia. Sekarang aku butuh Mamah, aku ingin Mamah mengomentari persiapan pernikahanku. Yah memang belum diputuskan akan berlangsung di bulan apa, tapi insya Allah tahun 2014 ini sesuai apa yang ditargetkan pacarku. Ibunya dan ayahnya pun sudah menjelaskan tentang maksudnya padaku. Tolong Mamah ada disampingku, tolong kembali seperti dulu. Mungkin saat membeli barang untuk seserahan, souvenir, undangan dan lainnya aku pergi dengan Ibu, tapi aku ingin saat siraman nanti Mamah sembuh dan ada disampingku mengkhayati prosesi demi prosesinya. Ketika siraman nanti itu simbolis dimana Mamah yang dulu memandikanku dan itu akan jadi terakhir kalinya Mamah dan Bapa memandikanku karena setelah itu lelaki-ku akan membawaku. Aku tahu Mamah tak punya materi untuk membantu pernikahanku tetapi yang lebih penting untukku adalah dukungan Mamah secara batin, Mamah ada disampingku, dan Mamah sembuh".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar